TARAKAN – Dampak letusan Gunung Ruang yang terletak di Sulawesi Utara semakin meluas. Disebutkan abu vulkanik dan sulfur dioksida (SO2) akan memberikan dampak yang buruk.
Dikhawatirkan dampak dari abu vulkanik dan sulfur dioksida (S02) akan meluas hingga ke Kaltara. Menaggapi hal tersebut, BMKG Provinsi Kaltara memberikan penjelasan lebih detail agar masyarakat memahami mengenai informasi yang beredar.
Kepala BMKG Provinsi Kaltara, M. Sulam Khilmi mengatakan, pihaknya telah menerima informasi letusan Gunung Ruang pada tanggal 18 April 2024 lalu sekitar pukul 00.38 WITA.
Selanjutnya, pihaknya secara berkala melakukan prosedur paper test di area Bandara Juwata Tarakan. Ini dilakukan untuk memastikan apakah ada atau tidaknya kandungan vulkanik S atau abu vulkanik yang terdeteksi di Bandara Juwata Kota Tarakan.
“Dari serangkaian paper test yang kami lakukan selama dua hari, abu vulkanik tidak terdeteksi di bandara Juwata Tarakan. Makanya penerbangan juga normal saja. Namun tidak demikian dengan daerah-daerah yang dekat dengan Gunung Ruang,” terang M. Sulam Khilmi.
Sebenarnya secara tupoksi penjelasan vulkanik ada di instansi resmi yakni Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Namun karena di Kaltara tidak ada gunung api, maka tidak ada perwakilan di Kaltara.
Lebih lanjut M.Sulam Khilmi mengungkapkan, untuk saat ini penyebaran hanya berdampak pada wilayah yang dekat letusan.
“Untuk saat ini yah, penyebaran abu vulkanik ada di sekitar lokasi Gunung Ruang saja yang ditandai dengan titik merah tidak sampai wilayah Kaltara. Jadi tidak terdeteksi adanya vulkanik,” bebernya.
Sehingga menjawab adanya isu dampaknya di Kaltara, ia pada tupoksi meninjau dari sisi penerbangan saja.
Kemudian lanjutnya pemberitaan sulfur dioksida (SO2) yang beredar dan sempat meresahkan warga, ia menegaskan bahwa sampai saat ini BMKG Kaltara belum memiliki alat untuk mendeteksi SO2.
“Karena saat ini fungsi kami hanya mendeteksi vulkanik S untuk keselamatan penerbangan. Jadi mungkin untuk SO2 bisa mengecek di Pusat Vulkanologi, karena itu ada instansi tersendiri yang lebih memiliki kewenangan untuk merilis,” beber M. Sulam Khilmi.
Namun lanjutnya, untuk signifikan weather atau Sigwer atau signifikan cuaca, merilis potensi cuaca ekstrem di daerah yang ditandai bisa muncul thunder storm atau badai guntur dan bisa juga vulkanik s dam potensi hujan lebat. Sehingga khusus SO2 tidak menjadi kewenangan BMKG Kaltara.
“Tapi secara garis besar sulfur dioksida itu adalah partikel yang sangat ringan. Ketinggiannya dia melayang di lapisan stratosfer. Lapisan stratosfer kan berada di atas 10 KM dari permukaan laut. Artinya memang tidak sampai di lapisan troposfer di bawah ya. Sedangkan awan hujan itu adalah awan rendah, ketinggiannya 1 KM atau 1000 kaki dri atas permukaan laut, atau bisa sampai 5 KM,” bebernya.
Untuk perhitungan jaraknya lanjutnya sepertinya memang lanjutnya berdasarkan citra satelit arahnya menuju arah barat dari titik letusan. Namun sekali lagi karena keberadaan ketinggian SO2 di atas awan hujan sehingga tidak mengenai awan yang menghasilan hujan.
” Tidak serta merta membahayakan. Kondisi kita di Kaltara aman,” ujarnya.
Berbicara dampak vulkanik s, ketika ukurannya lebih dari yang disyaratkan beberapa maskapai, mengakibakan gangguan pada mesin pesawat.
“Sehingga pada 19 April 2024 kemarin, Lion Super Jet menutup mesin sebagai langkah antisipasi sambil menunggu paper test. Jadi kondisi saat ini yang dikeluhkan masyarakat tidak ada kaitannya dengan vulkanik S,” pungkasnya. (*)



