TARAKAN – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara terus memacu transformasi digital di sektor transportasi laut untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat di wilayah perairan. Kepala Perwakilan BI Kaltara, Hasiando G Manik, dalam pertemuan bersama media pada Jumat sore mengungkapkan bahwa target besar mereka adalah menghadirkan alternatif pembayaran nontunai melalui QRIS di seluruh pelabuhan utama sebelum memasuki semester kedua tahun 2026.
Upaya ini merupakan langkah strategis untuk menyejajarkan Kaltara dengan provinsi kepulauan lain yang telah lebih dulu maju dalam hal ekosistem digital, seperti Kepulauan Riau.
Hasiando menekankan bahwa transformasi ini merupakan hasil kolaborasi erat dengan pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.
Ia menjelaskan bahwa inovasi ini hadir bukan untuk menggantikan peran uang tunai sepenuhnya, melainkan untuk memperluas opsi bagi para penumpang.
“Ini bukan berarti tunai dihentikan, tetap ada, jadi kita diberikan dua opsi pembayaran, bisa dengan tunai ataupun bisa dengan QRIS,” ujar Hasiando saat menjelaskan mekanisme pembayaran di loket pelabuhan.
Peta jalan digitalisasi ini telah menunjukkan progres nyata yang dimulai dari Pelabuhan Tengkayu I di Tarakan sejak Desember 2025, di mana sebanyak delapan agen tiket kini telah resmi menerima pembayaran QRIS. Proses ini kemudian berlanjut ke Pelabuhan Kayan II di Bulungan dan Pelabuhan Speedboat di Malinau yang ditargetkan tuntas pada Februari 2026. Selanjutnya, Pelabuhan Liem Hie Djung di Nunukan akan menyusul pada Maret 2026, dan rangkaian ini akan ditutup dengan digitalisasi di Pelabuhan Tidung Pale, Kabupaten Tana Tidung (KTT) pada April 2026.
Untuk memastikan kenyamanan masyarakat, BI Kaltara berkomitmen untuk menjaga kualitas layanan pembayaran agar tetap lancar dan nyaman digunakan.
“Harapannya sebelum semester dua keseluruhannya itu kita sudah bisa punya alternatif pembayaran di setiap pelabuhan dengan QRIS, dan ini harus dijaga agar pembayarannya dibuat nyaman,” tegas Hasiando mengenai standar pelayanan yang diharapkan.
Sosialisasi masif melalui pemasangan spanduk dan informasi visual di area pelabuhan juga akan ditingkatkan agar para calon penumpang mengetahui bahwa layanan nontunai telah tersedia.
Optimisme BI Kaltara ini didukung oleh data adopsi QRIS yang tumbuh sangat pesat di Bumi Benuanta. Hingga akhir 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 131.252 jiwa, sementara nilai nominal transaksi meroket tajam sebesar 266 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Dengan tren positif ini, digitalisasi pelabuhan diharapkan tidak hanya mempercepat proses transaksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang lebih merata di seluruh Kalimantan Utara. (Sha)



