TARAKAN – Di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang Idulfitri 1447H, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara menekankan pentingnya aspek edukasi dalam bertransaksi. Melalui Kick Off SERAMBI 2026, BI mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada penukaran uang, tetapi juga pada cara merawat dan mengenali keaslian uang tersebut.

Kepala Perwakilan BI Kaltara, Hasiando G. Manik, secara tegas mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi peredaran uang palsu. Beliau meminta warga selalu cermat mengenali ciri keaslian uang melalui metode 3D.
“Bank Indonesia kembali mengajak masyarakat untuk selalu cermat mengenali ciri keaslian uang melalui metode 3D, yaitu Dilihat, Diraba, Diterawang,” ujar Hasiando.


Selain mengenali keaslian, aspek perawatan uang juga menjadi poin utama yang disampaikan. Hasiando mengimbau masyarakat untuk merawat Rupiah dengan prinsip 5J agar masa edar uang tetap dalam kondisi layak.

“Masyarakat juga diimbau untuk merawat Rupiah dengan prinsip 5J, yaitu Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi,” tegasnya.

Hasiando menyampaikan bahwa edukasi ini sangat relevan mengingat momentum Ramadan selalu diiringi peningkatan transaksi yang masif. Dengan memahami cara merawat uang, masyarakat turut membantu menjaga kualitas uang beredar.
Ia menambahkan, “Rupiah yang cukup dan layanan yang optimal diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan memperluas keberkahan Ramadan bagi masyarakat”.
Dalam pelaksanaannya, SERAMBI 2026 menyediakan 36 titik layanan penukaran resmi mulai tanggal 18 Februari hingga 13 Maret 2026. Hasiando menyarankan masyarakat untuk selalu menggunakan kanal resmi guna menjamin keamanan.
“Untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat serta memastikan layanan yang adil dan merata, pemesanan penukaran dilakukan melalui Website PINTAR,” jelas Hasiando.
Penggunaan teknologi digital ini dinilai sebagai cara paling efektif untuk mendapatkan layanan sekaligus mengurangi risiko kerumunan yang tidak teratur di lokasi penukaran. Melalui platform tersebut, masyarakat dapat memilih jadwal dan lokasi penukaran sesuai kebutuhan masing-masing.
Di sisi lain, Hasiando juga mendorong akselerasi pembayaran digital di samping penyediaan uang tunai. Ia berharap sinergi antara penyediaan uang tunai yang memadai dan peran aktif masyarakat dalam bertransaksi secara bijak dapat memperkuat kelancaran sistem pembayaran selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026.
Hasiando G. Manik menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa tema tahun ini, “Rupiah Memberi Makna Di Bulan Penuh Berkah”, harus dijiwai oleh masyarakat.
“Tema tersebut menegaskan kehadiran Rupiah sebagai bagian dari momen penting masyarakat selama bulan suci, mulai dari aktivitas ibadah hingga tradisi berbagi dan kebersamaan keluarga,” pungkasnya. (Sha)



