TARAKAN – Komunitas Sobat Bumi Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui Program Fasilitator (PF) 12 menggelar kegiatan sosialisasi kesiapsiagaan bencana di SMAN 1 Tarakan pada Kamis (8/1/26). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta keterampilan dasar siswa dalam menghadapi situasi darurat bencana melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung.
Sekretaris Sobat Bumi UBT, Nur’Aini, menjelaskan sosialisasi ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori kebencanaan, tetapi juga mampu merespons kondisi darurat secara tepat.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan dasar kesiapsiagaan bencana. Kami ingin siswa benar-benar siap, tidak hanya tahu secara konsep, tetapi juga bisa mempraktikkan,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 40 siswa SMAN 1 Tarakan. Indikator keberhasilan sosialisasi terlihat dari keterlibatan aktif siswa selama pemaparan materi hingga sesi praktik. Selain itu, materi mitigasi bencana dan pertolongan pertama dapat dipahami dengan baik serta dipraktikkan langsung oleh peserta.
Dalam sosialisasi tersebut, materi kesiapsiagaan bencana disampaikan oleh instansi yang berkompeten. BASARNAS memberikan materi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana yang meliputi konsep dasar bencana, jenis-jenis bencana, perencanaan darurat, evakuasi, hingga prinsip dasar tanggap darurat dan penyelamatan korban. Sementara itu, PMI menyampaikan materi pertolongan pertama, khususnya Resusitasi Jantung Paru (RJP), mulai dari pengenalan kondisi henti jantung dan napas, prinsip keselamatan penolong, hingga tahapan CPR yang benar.
“Seluruh materi disampaikan secara komunikatif dengan mengacu pada materi resmi pemateri, sehingga mudah dipahami oleh siswa,” jelas Nur’Aini.
Tak hanya pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan praktik simulasi. BASARNAS memperagakan teknik evakuasi korban serta prinsip keselamatan diri, sedangkan PMI memandu simulasi pertolongan pertama dan CPR. Para siswa diberi kesempatan untuk mengamati sekaligus mencoba langsung teknik yang dicontohkan.
Ia menambahkan, kegiatan ini memiliki potensi dampak jangka panjang bagi sekolah. Selain memperkuat edukasi kebencanaan, materi dan poster edukasi yang dipasang di lingkungan sekolah dapat menjadi media pembelajaran berkelanjutan.
“Kegiatan ini juga bisa menjadi dasar pengembangan program lanjutan, seperti simulasi evakuasi rutin, pelatihan CPR, hingga pembentukan tim siaga bencana sekolah,” pungkasnya.
Ke depan, Sobat Bumi UBT berencana mengembangkan kegiatan serupa ke sekolah-sekolah lain di Kota Tarakan hingga wilayah Kalimantan Utara. Program ini diharapkan dapat menjadi edukasi kebencanaan lintas sekolah yang berkelanjutan dan berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang tanggap, sigap, dan berdaya menghadapi potensi bencana di Kalimantan Utara. (**)



