NUNUKAN – Komitmen untuk hadir di tengah masyarakat perbatasan kembali dibuktikan oleh Kapolda Kalimantan Utara, Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K. Pada Sabtu (14/03/2026), Kapolda bertolak dari Kota Tarakan menuju Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, untuk meresmikan Jembatan Merah Putih Presisi yang terletak di Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah.

Meski informasi dari BMKG menunjukkan adanya potensi gelombang cukup tinggi di perairan Tarakan–Nunukan, hal tersebut tidak menyurutkan langkah jenderal bintang dua ini untuk bertemu langsung dengan warga yang telah lama menantikan pembangunan infrastruktur tersebut.
Kehadiran Kapolda Kaltara didampingi oleh Ketua Bhayangkari Daerah Kalimantan Utara serta sejumlah Pejabat Utama Polda Kaltara, mulai dari Karoops, Dirlantas, Dirreskrimsus, Dirsamapta, Dirpolairud, hingga Dansat Brimob dan Kapolres Nunukan. Kedatangan rombongan disambut dengan antusiasme luar biasa oleh masyarakat Desa Sungai Limau. Warga dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak sekolah, tampak memadati lokasi peresmian dengan raut wajah gembira karena akses mobilitas harian mereka kini menjadi jauh lebih mudah dan aman.


Dalam sambutannya, Kapolda Kaltara menegaskan bahwa pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi ini bukan sekadar pembangunan fisik semata, melainkan simbol kehadiran negara di wilayah terluar Indonesia. Beliau memaparkan bahwa nama jembatan ini mengandung makna filosofis yang mendalam bagi hubungan Polri dan masyarakat di perbatasan RI-Malaysia.

“Jembatan ini bukan hanya sekadar penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi jembatan harapan bagi masyarakat. Merah Putih melambangkan kecintaan kita kepada tanah air, sedangkan Presisi adalah semangat Polri untuk terus hadir melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat,” ungkap Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy.

Menurut Kapolda, Sebatik memiliki nilai strategis sebagai wajah bangsa di beranda depan negara. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas yang mendukung mobilitas warga menjadi krusial untuk memperkuat kesejahteraan sekaligus memupuk jiwa nasionalisme. Keberadaan jembatan ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh anak-anak menuju sekolah, memperlancar jalur logistik desa, serta mendongkrak roda perekonomian lokal yang selama ini terhambat kendala akses jalan.
Rasa syukur pun mengalir dari masyarakat setempat yang merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan permanen tersebut. Dengan resminya Jembatan Merah Putih Presisi, infrastruktur ini kini menjadi penghubung vital yang tidak hanya menyatukan dua wilayah secara fisik, tetapi juga mempererat semangat gotong royong dan kebersamaan antara aparat kepolisian dengan masyarakat di wilayah tapal batas. (*)



