Hoax Pandemi, Sebab dan Solusi Tuntas

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Oleh : Ernadaa Rasyidah
(Pengamat Sosial dan Generasi)

Kepanikan adalah separuh penyakit
Ketenangan adalah separuh obat
Kesabaran adalah awal dari kesembuhan
(Ibnu Sina)

Di tengah pandemi yang kian mengkhawatirkan, nasehat Ibnu Sina di atas layak untuk diperhatikan. Kemudahan akses informasi, nyatanya tak selalu berimbas positif. Hal ini karena tidak jarang yang dikonsumsi publik justru sesuatu yang menimbulkan kebingungan dan kerancuan. Berita-berita hoax menjadi semakin marak. Pola penyebarannya pun secepat kilat, membuat masyarakat sulit mendapatkan berita yang benar dan akurat. Tidak jarang pendapat ahli diketepikan, dan merujuk pendapat yang viral  hanya karena pendapat tersebut anti mainstream.

Hoax adalah berita palsu atau berita bohong, dimana informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Lebih khusus, Werme (2016), mendefinisikan fake news (Hoax) adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Pakar Pulmonologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Ika Trisnawati mengatakan, selama pandemi Covid-19 ada di Indonesia, ada beberapa berita hoax yang tersebar di masyarakat. Setidaknya ada 23 berita hoax yang isampaikan dalam webinar bertema Mitos vs Fakta seputar Covid-19. (kompas.com).

Beredarnya kabar hoaks ini tentu membuat masyarakat luas menjadi salah kaprah menyikapi adanya pandemi Covid-19. Sesuatu yang wajar, keberadaan berita hoax bagai bola liar yang sulit dikontrol. Berita hoax dapat menimbulkan keresahan, juga mengikis kepercayaan ditengah masyarakat. Akibatnya alih-alih membuat pandemi reda, justru turut menyumbangkan angka penambahan kasus, karena sikap abai dan terpengaruh berita hoax.

 

Demokrasi Sumber Hoax
Dalam demokrasi, yang mengusung kebebasan dan memberikan penentuan benar dan salah di tangan manusia, hoax sudah menjadi sebuah tradisi. Berperan sebagai senjata ampuh untuk menyerang lawan demi sebuah ambisi atau untuk sebuah kepentingan dan eksistensi diri. Kebenaran menjadi barang langka, harapan medatangkan ketenangan dalam setiap informasi, memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat. Alhasil rakyat justru menjadi korban kebohongan.

Slogan Hak Asasi Manusia (HAM) yang diagungkan dalam sistem ini, nyatanya tidak bisa membatasi benar dan salah. HAM tidak lebih sebagai tameng untuk berlindung, melahirkan kebebasan yang kebablasan tanpa peduli berapa banya nyawa yang teramcam. Salah satu kebebasan yang di junjung tinggi adalah kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Slogan kebebasan itu pula, yang menjadi pijakan menyebar ketakutan dan kebohongan agar tampak sebagai kebenaran. Bahkan, bukan sesuatu yang mustahil saat kebebasan menyebar hoax dibiarkan, akan membungkam kebenaran berdasar agama  ataupun sains. Berita hoax dianggap wajar, karena sistem ini memfasilitasi berbagai bentuk kebohongan. Tentu ini sangat berbahaya dan membahayakan. 

 

Islam Solusi
Islam mensyariatkan setiap perbuatan seorang muslim terikat dengan aturan Allah. Standar perbuatannya adalah halal dan haram, sehingga setiap kabar/berita yang disampaikan harus di kroscek dulu dan teruji kebenarannya sebelum di sajikan dihadapan publik, pertanggungjawaban seorang muslim bukan hanya kepada manusia, lebih dari itu kepada Allah sang pencipta.

Allah SWT berfirman, yang artinya:
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.” (QS. An-Nahl:105)

Negara memiliki peran yang sangat penting, memberikan perlinduangan dari segala bentuk berita bohong. Melakukan kontrol penuh terhadap media massa untuk memastikan kebenaran berita yang disampaikan. Begitupun memastikan setiap yang berbicara adalah orang yang memiliki kapasitas dan keahlian, sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Demikian pula, negara memberikan sanksi tegas bagi pembuat dan penyebar berita bohong (hoax) baik skala individu, kelompok maupun negara.

Semua itu bisa terwujud dengan penerapan sistem Islam secara kaffah. Kembali menerapkan aturan ilahi, yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah. Niscaya hoax dapat diberantas hingga tuntas. In syaa Allah.

 

Wallahu ‘alam bi ash-shawwab

Share.

About Author

Leave A Reply