TARAKAN – Aroma cabai Dayak yang menyengat bercampur harum gurih bumbu halus mendadak memenuhi ruangan dapur bersahaja di kawasan Juata Kerikil, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Di atas kompor, adonan merah merona itu menggelegak pelan.


Tangan Yuliatin tak berhenti menggerakkan sotil kayu, mengaduk adonan kental itu selama tiga jam penuh tanpa jeda. Api kecil harus dijaga ketat; salah sedikit saja, rasa gurih khasnya bisa berubah menjadi pahit karena gosong.



Di tengah kepulan asap yang sesekali memedihkan mata, perempuan bersahaja ini sedang menenun harapan—meracik cita rasa lokal menjadi produk UMKM berdaya saing global.

Kisah Sambal Dayak tidak lahir dari sebuah perencanaan bisnis besar di atas kertas. Perjalanannya bermula pada 2017 secara tidak sengaja. Saat itu, Yuliatin sebenarnya memfokuskan usahanya pada pembuatan otak-otak bandeng asap. Sambal racikannya hanya disajikan sebagai pelengkap atau pendamping cocolan semata.
Namun, respons para pembeli justru mengejutkan. Banyak pelanggan yang ketagihan dengan rasa pedas gurih sambalnya, terutama ketika ia mulai bereksperimen memadukan resepnya dengan ikan asin pepija—komoditas laut khas Tarakan. Melihat antusiasme tersebut, insting usahanya bergerak cepat untuk menangkap peluang bisnis yang jauh lebih menjanjikan.
Keunikan dan kekuatan utama Sambal Dayak terletak pada pemilihan bahan baku serta proses pengolahannya yang autentik. Yuliatin secara khusus memilih cabai Dayak yang dibeli langsung dari Pasar Dayak dan memadukannya dengan bawang dayak putih berukuran kecil sejenis kucai yang memberikan aroma wangi yang menonjol.
Produk ini mampu bertahan lama tanpa menggunakan sebutir pun bahan pengawet kimiawi. Ketahanannya murni bertumpu pada teknik pematangan yang pas dan proses pengadukan yang matang sempurna selama berjam-jam.
“Kami pertahankan citarasa sambal ini tanpa bahan pengawet. Di suhu ruang, sambal ini bisa bertahan hingga 6 bulan selama kemasan tidak rusak,” kata Yuliatin.
Pada masa-masa awal berdiri, sistem penjualannya sangat terbatas. Yuliatin hanya mengandalkan promosi sederhana dari mulut ke mulut (word of mouth) di kalangan tetangga, kerabat, serta pembeli otak-otak bandengnya. Kala itu, volume penjualannya masih sangat minim—hanya belasan botol per minggu yang diproduksi secara tentatif berdasarkan pesanan langsung.
Cita rasa yang autentik memang menjadi modal dasar, tetapi transformasi manajerial-lah yang benar-benar mengubah skala usahanya. Titik balik besar perjalanan bisnis Yuliatin terjadi menjelang tahun 2020, saat ia berhasil lolos seleksi dan masuk dalam program pembinaan UMKM oleh Bank Indonesia (BI). Di wadah inilah, cara pandang dan pengelolaan usahanya dirombak secara menyeluruh.
“Mindset kita diubah total, dari yang awalnya sekadar berpikir sebagai pedagang biasa menjadi seorang wirausaha sejati,” ungkap Yuliatin mengenang masa-masa pembinaan tersebut.
Melalui pendampingan intensif tersebut, Yuliatin mulai merapikan fondasi bisnisnya. Ia diajarkan menyusun pembukuan yang terstruktur, menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) secara mendalam dan presisi, menentukan target market secara spesifik, hingga mengadopsi teknologi digital.
Strategi pemasarannya pun bertransformasi secara drastis. Jalur word of mouth yang dulunya menjadi satu-satunya tumpuan kini bergeser ke sistem distribusi modern dan multisaluran.
Sambal Dayak mulai dipasarkan secara luas di jaringan marketplace (seperti Shopee dan Tokopedia), diguncang promosi konten visual di TikTok, hingga berhasil menembus etalase minimarket dan toko oleh-oleh modern di Kalimantan Utara. Penggunaan fasilitas QRIS juga selalu siap mempermudah transaksi pengunjung di setiap ajang pameran.
Perubahan strategi pemasaran ini berdampak signifikan pada angka penjualan dan skala produksi. Peningkatan kuantitas penjualannya melesat tajam: jika dahulu dalam seminggu hanya sanggup melepas belasan botol, kini Sambal Dayak mampu mencatatkan angka penjualan hingga ratusan bahkan ribuan botol per bulan untuk memenuhi permintaan pasar lokal maupun luar daerah.
“Untuk sekarang omzet bisa tembus dua ribu botol per bulan. Angka ini bisa bertambah jika banyak event-event khusus,” jelasnya.
Dampak nyata dari proses “naik kelas” ini juga terlihat jelas pada aspek pemberdayaan ekonomi dan jangkauan pasar. Pada 2018, Yuliatin hanya sanggup menjalankan roda produksi seorang diri dengan dibantu satu atau dua orang tetangga secara lepas. Kini, usaha Sambal Dayak telah memiliki empat orang tenaga kerja tetap yang diandalkan setiap hari.
Jangkauan pasarnya pun melesat jauh melampaui batas wilayah. Dari dapur kecil di Juata Kerikil, botol-botol Sambal Dayak yang dikemas rapi dan higienis kini tidak hanya menghiasi minimarket lokal, tetapi telah melintasi batas negara. Ada beberapa varian sambal Dayak yang kini menjadi produk unggulan seperti sambal Dayak Ikan Pepija, Sambal Dayak Cakalang, Sambal Dayak Kepiting Tarakan, Sambal Dayak Cumi, dan beberapa varian lainnya. Sambal Dayak sukses menembus pasar internasional dan diekspor secara rutin ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Hong Kong.
“Penjualan dulu hanya mengandalkan kabar dari mulut ke mulut dan pesanan tetangga. Sekarang alhamdulillah, lewat marketplace, toko modern, sampai minimarket, orang dari mana saja bisa beli. Kami juga sering ke Malaysia jika ada pameran UMKM,” tambah Yuliatin.
Meski telah meraih berbagai pencapaian manis, Yuliatin menolak untuk berpuas diri. Terinspirasi oleh kesuksesan brand kuliner legendaris Sambal Bu Rudi di Surabaya, ia menyimpan cita-cita besar yang ingin segera diwujudkannya di tanah kelahirannya.
“Mimpi saya ke depan ingin sekali membuka warung makan dengan brand Sambal Dayak sendiri. Tempat di mana para tamu dan wisatawan bisa duduk menikmati hidangan secara langsung, sekaligus membeli oleh-oleh khas Tarakan untuk dibawa pulang,” tuturnya penuh optimisme.
Bagi Yuliatin, Sambal Dayak bukan sekadar usaha mencari nafkah harian. Botol-botol sambal pedas gurih tersebut adalah bukti nyata bahwa dari sudut kampung di Tarakan, kearifan lokal yang dikelola dengan ketekunan, keahlian, dan sentuhan manajemen modern mampu menembus pasar dunia. (Sha)



