TARAKAN – Ketua Komisi I DPRD Kota Tarakan, Adyansa, turun langsung meninjau persoalan penutupan akses jalan yang dikeluhkan warga di Kelurahan Kampung Satu Skip. Peninjauan ini dilakukan guna merespons laporan masyarakat terkait adanya pembangunan tembok pembatas yang menutup akses utama warga di wilayah tersebut.

Dalam kunjungannya, Adyansa mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi secara kekeluargaan dengan warga yang membangun tembok tersebut. Upaya ini dilakukan untuk mencari titik tengah tanpa harus menempuh jalur hukum atau tindakan tegas terlebih dahulu.
“Tadi kami berkunjung ke Kampung Satu Skip terkait laporan masyarakat soal akses jalan yang ditembok. Saya masih berbicara secara persuasif, dari hati ke hati dengan pemilik lahan,” ujar Adyansa saat memberikan keterangan kepada media.


Menurut keterangan Adyansa, pemilik lahan mengklaim bahwa area yang ditembok tersebut masuk dalam batas sertifikat miliknya. Namun, mengingat jalan tersebut merupakan satu-satunya akses keluar-masuk bagi banyak warga, pihak DPRD meminta agar pemilik lahan mempertimbangkan kepentingan umum.

“Alhamdulillah tadi pemilik sudah membuka ruang. Insyaallah nanti habis Lebaran, kami akan memastikan apakah jalan itu bisa dibuka atau masih menunggu kesiapan hati pemiliknya. Kami akan kembali melakukan tindak lanjut setelah momen Idul Fitri nanti,” tuturnya.

Meski mengedepankan cara-cara santun, Adyansa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam jika mediasi tersebut tidak membuahkan hasil. Pihaknya berencana melakukan pengukuran ulang batas lahan bersama instansi terkait untuk mendapatkan kepastian hukum mengenai status tanah tersebut.
“Kalau memang sesuai sertifikat yang dia miliki itu miliknya, berarti kita bicara soal ganti rugi atau bagaimana kedepannya. Tapi kalau pembicaraan kekeluargaan tetap menemui jalan buntu, kami akan turunkan pemerintah untuk eksekusi demi kebaikan bermasyarakat dan bertetangga,” tegas Adyansa.
Persoalan ini diketahui telah berlangsung selama beberapa tahun dan dipicu oleh adanya sentimen antar tetangga. Adyansa berharap pemilik lahan memiliki itikad baik untuk membongkar sendiri tembok tersebut agar aktivitas kendaraan, khususnya mobil yang saat ini tidak bisa masuk, dapat kembali normal.
“Setelah Lebaran akan kami panggil semua pihak untuk Rapat Dengar Pendapat jika belum ada titik temu. Intinya, akses ini sangat krusial karena merupakan jalan satu-satunya bagi warga di dalam sana,” pungkasnya. (Sha)



