Sampaikan Kendala Pelabuhan Bunyu dan Investasi Kilang Metanol

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Gubernur Temui Menteri BUMN

TANJUNG SELOR – Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie meminta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ikut mendorong dan membantu percepatan pembangunan Kaltara melalui. Gubernur mengharapkan keterlibatan dan peran BUMN semakin gencar di provinsi muda ini.

Permintaan tersebut disampaikan secara langsung kepada Menteri BUMN Erick Tohir, Rabu (8/7) di rumah dinas Menteri BUMN, Jalan Denpasar Raya, Jakarta. Gubernur juga ditemani Boy Tohir, Presdir PT Adaro Group yang merupakan salah satu pengusaha sukses di Tanah Air, dan notabene adalah saudara Menteri BUMN. “Cukup lama kami tidak bertemu, sejak Pak Erick mengikuti rombongan Bapak Presiden Jokowi kunjungan kerja ke Kaltara, 18-19 Desember 2019 yang lalu,” kata Gubernur.

Di kesempatan silaturahmi tersebut, Irianto juga menyampaikan permohonan fasilitasi hibah lahan PT Pertamina dalam rangka pembangunan dermaga/pelabuhan di pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan. Pembangunan pelabuhan ini akan dianggarkan melalui dana APBN Kementerian Perhubungan pada tahun 2021 nanti.

Rencana pembangunan Pelabuhan Bunyu, sudah dimulai sejak tahun 2016. Saat itu, Dinas Perhubungan Kaltara menggarap feasibility study (FS), detail engineering design (DED), dan rencana induk atau master plan. “Pada 2017, dilakukan pra studi kelayakan pelabuhan oleh Kemenhub dan Pertamina. Lalu 2018, melakukan SID juga oleh Kemenhub. Kemudian berlanjut pada 2019, diantaranya menyusun dokumen DLKr- DLKp, RIP, pengesahan studi kelayakan pelabuhan, dan pengesahan SID,” ujarnya.

Tahun ini, melangkah ke tahap pemenuhan izin penggunaan jalan akses Pertamina dari Direktur Aset Pertamina, Rekomendasi Bupati atas Kesesuaian Tata Ruang dari Bupati Bulungan, dan Rekomendasi Gubernur atas Kesesuaian Tata Ruang. “Alhamdulillah, izin menggunakan akses jalan Pertamina sudah disetujui, tinggal menunggu proses penetapan lokasi, ini mengingat pelabuhan Bunyu merupakan pelabuhan pengumpul,” ujarnya.

Pelabuhan Bunyu selain dapat digunakan untuk dermaga speedboat, juga akan dilalui oleh kapal barang. Diharapkan mengurangi disparitas harga barang masuk ke daerah penghasil minyak ini. “Beliau meminta agar nanti diajukan secara resmi dengan dilampiri data pendukung yang lengkap. Beliau akan memberi kesempatan bertemu di Kantor BUMN untuk pembahasan lebih lanjut,” ujarnya.

Gubernur juga melaporkan perkembangan rencana investasi pembangunan kilang methanol senilai Rp 10 triliun lebih di Pulau Bunyu yang akan dilakukan oleh PT Karya Mineral Jaya (KMJ). Sebelumnya, Pemprov Kaltara telah bersurat ke Menteri ESDM, Menteri BUMN, dan Kepala BKPM untuk memfasilitasi kemudahan bagi investor tersebut yang akan berinvestasi di Kaltara.

Gubernur mengatakan, Pemprov Kaltara mengetahui bahwa niat PT MKJ sangat serius untuk merealisasikan investasinya. Untuk itu, pemprov mendorong pelaksanaan negosiasi harga gas WK Nunukan antara PT KMJ dengan PHENC segera dilanjutkan kembali. Kaltara sangat berkepentingan dalam rencana investasi ini. Bukan hanya soal daerah penghasil. Namun investasi itu dapat menyerap 3-4 ribu pekerja lokal selama proyek berlangsung.

Gubernur beranggapan keinginan PT Pertamina (Persero) untuk ikut masuk sebagai pemegang saham super mayoritas, tidak sepatutnya menghentikan pelaksanaan negosiasi harga gas WK Nunukan. Apalagi Pemprov Kaltara dan Pemkab Bulungan telah memberikan rekomendasi dan fasilitasi perizinan yang diperlukan PT KMJ. “Saya berharap dengan komunikasi dengan Menteri BUMN, Menteri ESDM, Kepala BKPM, penyelesaian hambatan yang terjadi dalam proses pembangunan kilang methanol dapat dilanjutkan kembali dan proyek pembangunan dapat diselesaikan sesuai target yang telah dicanangkan,” ujarnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau. Beliau orang yang profesional, memiliki banyak gagasan inovatif dan kreatif, cerdas, open minded, humble, guyonannya selalu segar dan bermutu,” tambahnya.

Kata Gubernur, ia berkenalan dengan Menteri BUMN Erick Tohir melalui Boy Tohir. Perkenalan berawal pada 2015. “Pada 2015, saya melaksanakan ibadah umroh bersama isteri. Secara kebetulan kami menginap di hotel yang sama di Madinah. Pak Boy Tohir memperkenalkan saya dan isteri kepada orangtua beliau, Pak Teddy Tohir (almarhum) dan isteri, serta Pak Erick Tohir; mereka umroh rombongan satu keluarga besar,” tutupnya.(humas)

Share.

About Author

Leave A Reply