TARAKAN – Anggota DPD RI Perwakilan Kalimantan Utara H. Hasan Basri, menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan sebagai perisai utama dalam menghadapi gempuran hoaks dan degradasi moral di era digital. Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan bersama Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) yang berlangsung khidmat di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kota Tarakan pada Kamis, 12 Maret 2026.


Menanggapi kekhawatiran tokoh pemuda, Ardi, mengenai maraknya informasi palsu yang berpotensi mengadu domba antarsuku, Hasan Basri mengingatkan masyarakat untuk kembali pada jati diri orang Mandar yang dikenal dengan nilai Malaqbi. Ia menegaskan bahwa identitas luhur tersebut harus tercermin dalam perilaku digital, di mana setiap individu wajib mengedepankan etika dan logika sebelum menyebarkan informasi di media sosial.
“Jawaban saya adalah kembalilah pada Sila Ketiga dan Nilai Malebbi’, karena orang Mandar itu harus Malebbi dalam berucap dan bertindak, sehingga sebelum membagikan berita, tanyakan pada diri sendiri apakah informasi ini mempersatukan atau justru memecah belah,” ujar H. Hasan Basri di hadapan para peserta yang hadir.




Lebih lanjut, senator tersebut menjelaskan bahwa MPR RI secara konsisten mendorong literasi konstitusi agar Pancasila tidak hanya menjadi hafalan, melainkan berfungsi sebagai penyaring informasi yang efektif. Menurutnya, jika sebuah konten digital memicu kebencian terhadap suku atau agama tertentu, maka hal tersebut secara otomatis bertentangan dengan prinsip dasar negara dan harus ditolak oleh para pemuda sebagai agen perdamaian.


“Pemuda Mandar harus menjadi influencer perdamaian, bukan agen provokasi, dengan menjadikan Pancasila sebagai filter informasi agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh narasi yang merusak persatuan bangsa,” tegas Hasan Basri saat memberikan arahan kepada generasi muda yang hadir.


Diskusi semakin hangat saat Ibu Rahma, perwakilan dari Majelis Taklim, menyuarakan keprihatinannya terkait memudarnya nilai-nilai Pancasila di kalangan pelajar yang kini lebih terpapar budaya asing. Menanggapi hal itu, Hasan Basri menitipkan pesan kuat kepada para ibu agar mampu menjadi benteng moral pertama bagi anak-anak di lingkungan keluarga melalui metode keteladanan yang nyata.
“Pancasila jangan diajarkan sebagai teori yang berat, tapi sebagai keteladanan dengan mengajarkan anak-anak kita tentang prinsip Sipamandaq atau saling menguatkan, serta menceritakan kisah heroik pahlawan lokal dalam mempertahankan kemerdekaan,” kata Hasan Basri menjelaskan peran strategis perempuan dalam pendidikan karakter.
Sebagai penutup, ia memastikan bahwa MPR RI akan terus mendesak penguatan kurikulum pendidikan moral Pancasila agar kembali menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan nasional. Ia berharap kolaborasi antara program pemerintah dan peran keluarga sebagai penjaga gawang moral dapat melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat dan cinta tanah air.
“Kami di MPR akan terus mendesak agar kurikulum pendidikan moral Pancasila diperkuat kembali sehingga nilai-nilai tersebut tidak sekadar menjadi tempelan, tetapi benar-benar meresap dan membentuk karakter siswa secara mendalam,” pungkasnya. (*)



