TARAKAN – Yayasan Almarhamah Indonesia resmi meluncurkan Sekolah Lansia NURANI (Nusantara Ramah Lansia) untuk jenjang Standar Satu (S1), Standar Dua (S2), dan Standar Tiga (S3). Program ini menjadi langkah nyata menghadirkan ruang belajar, bertumbuh, dan berkegiatan bagi para lanjut usia (lansia) agar tetap sehat, aktif, produktif, dan bahagia.
Kegiatan peluncuran berlangsung pada Kamis (2/6/2026) di Aula Asrama Haji Transit Tarakan. Acara ini turut dihadiri jajaran Yayasan Almarhamah Indonesia, perwakilan plPemerintah Kota Tarakan, tenaga kesehatan, serta puluhan lansia yang menjadi peserta program.
HRD Yayasan Almarhamah Indonesia, Abdun Nur Razaki, menjelaskan program Sekolah Lansia NURANI berangkat dari hasil kajian atas persoalan sosial yang selama ini luput dari perhatian, yakni jumlah lansia yang terus bertambah, namun tidak diimbangi dengan bertambahnya lembaga atau pihak yang mengelola pemberdayaan mereka.
“Lansia Nurani Almarhamah ini adalah program yang melihat gap research, ada permasalahan sosial di mana jumlah lansia terus bertambah, tapi jumlah orang atau lembaga yang mengelola tidak bertambah dan tidak bertumbuh,” ujar Abdun.

Ia menambahkan, Yayasan Almarhamah Indonesia melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk turut menyelesaikan persoalan sosial itu melalui program pemberdayaan berbasis kurikulum berjenjang, yaitu S1, S2, dan S3.
Menurut Abdun, setiap jenjang dalam Sekolah Lansia NURANI memiliki fokus pembelajaran yang berbeda. Pada jenjang S1, peserta lebih banyak diarahkan untuk belajar tentang kemandirian serta pengenalan kesehatan diri. Jenjang S2 lebih menitikberatkan pada kegiatan fisik, seperti kegiatan luar ruang dan interaksi dengan alam. Sementara pada jenjang S3, peserta diarahkan untuk menghasilkan karya, baik berupa produk maupun bentuk karya lainnya.
“S3 mereka melahirkan sebuah karya, apakah itu sebuah produk atau yang lain,” katanya.
Setiap jenjang memiliki jumlah pertemuan yang berbeda. Jenjang S1 terdiri atas 10 kali pertemuan, sedangkan S2 sebanyak 8 kali pertemuan, dan seterusnya hingga S3. Pada tahun ini, seluruh rangkaian pertemuan tersebut dirapel dan dilaksanakan sepanjang 2026.
“S1, S2, dan S3 nanti diwisuda pada bulan Januari, insyaallah,” ujarnya.
Abdun menyebutkan, pada angkatan sebelumnya, sebanyak 30 lansia telah diwisuda untuk jenjang S1 dan kini melanjutkan ke jenjang S2. Sementara itu, untuk pembukaan kelas S1 yang baru, program ini kembali diikuti sekitar 20 lansia.
Program tersebut untuk saat ini baru menjangkau wilayah Lingkas Ujung. Yayasan Almarhamah Indonesia berharap dapat segera memperluas jangkauan ke wilayah lain di Kota Tarakan, bahkan ke sejumlah daerah di Kalimantan Utara.
“Kami untuk memprofesionalkan, jadi kami buka pendaftarannya,” ujar Abdun.
Sebelum resmi menjadi peserta, calon peserta Sekolah Lansia NURANI harus melalui tahap screening kesehatan, mulai dari pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan kesehatan umum, hingga verifikasi usia. Yayasan Almarhamah Indonesia turut mengenalkan istilah khusus untuk mengelompokkan peserta berdasarkan usia, yakni “Jelita” atau jelang usia 50 tahun, dan “Lolita” atau lolos usia 50 tahun ke atas.
Meski demikian, peserta berusia 60 tahun ke atas menjadi prioritas utama program ini karena jumlahnya masih terbatas dibandingkan kelompok usia lain.
Pada kelas perdana, Yayasan Almarhamah Indonesia turut menghadirkan pemateri dari Hexsan Nursing Center yang memberikan materi seputar akupunktur, akupresur, dan pijat sederhana bagi lansia. Peserta juga dilatih melakukan gerakan-gerakan sederhana untuk menjaga kesehatan tubuh secara mandiri.
“Jadi bagaimana lansia bisa sederhana, mandiri, untuk melatih organ tubuhnya tetap terus bergerak,” kata Abdun.
Ia juga memastikan seluruh rangkaian program ini tidak dipungut biaya alias gratis bagi peserta.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan, Arbain, mengapresiasi pelaksanaan Launching Sekolah Lansia NURANI S1, S2, dan S3 tersebut. Ia menilai program ini membawa manfaat besar bagi para lansia di Tarakan, khususnya dalam membangun kembali semangat hidup mereka.
“Memang sangat bermanfaat untuk para lansia kita, untuk kembali memberikan semangat kepada para lansia yang hari ini mengikuti sekolah lansia ini,” ujar Arbain.
Ia berharap semakin banyak lansia yang aktif mengikuti program serupa ke depannya. Menurutnya, keterlibatan lansia dalam kegiatan pemberdayaan dapat membantu menjauhkan mereka dari risiko sakit maupun rasa malas beraktivitas.
“Ini kan suatu kegiatan positif yang bisa menjadi percontohan. Kita tahu Tarakan ini jumlah penduduknya paling banyak di Kaltara. Tentu kita berharap seperti itu, karena memang ini salah satu terobosan yang sangat baik. Tentu kalau yang baik itu kita dukung,” katanya.
Arbain menegaskan, Pemerintah Kota Tarakan berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan program pemberdayaan lansia ini, termasuk kemungkinan mewujudkannya dalam bentuk kegiatan yang didukung langsung oleh program pemerintah daerah.
“Jadi kami dari pemerintah, insyaallah nanti bagaimana pemberdayaan ini bisa nanti kita wujudkan dalam bentuk aktivitas kegiatan yang didukung oleh program pemerintah daerah,” pungkasnya. (*)



