TARAKAN – Halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tarakan dipadati oleh ribuan orang pengunjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Masyarakat Kota Tarakan, Kamis (25/6/2026).
Aksi damai yang dipimpin oleh Setiyawan ini membawa misi besar untuk mengawal dan menyampaikan dukungan penuh terhadap keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan.
Massa aksi yang hadir merupakan representasi dari berbagai lapisan masyarakat bawah yang terdampak langsung oleh program ini, meliputi mitra Badan Gizi Nasional (BGN), sukarelawan, pelaku UMKM, pedagang, petani, peternak, nelayan, tenaga pendidik, kader posyandu, hingga elemen masyarakat lainnya.
Dalam orasinya di atas mobil komando, perwakilan aksi menegaskan bahwa kedatangan mereka adalah untuk menitipkan amanah perjuangan kepada para wakil rakyat di daerah. Mereka menuntut agar DPRD Kota Tarakan segera meneruskan pernyataan sikap tertulis ini kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta.

Demonstran menilai program nasional ini adalah kebijakan sakral yang menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia (SDM) di seluruh pelosok negeri.
“Pernyataan sikap ini nanti akan kami serahkan kepada perwakilan kita, kepada DPRD Kota Tarakan, sehingga aspirasi kita ini dapat diteruskan ke Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dan diteruskan juga ke DPR RI,” ujar Setiyawan.
Di hadapan para anggota dewan yang menemui massa, Setiyawan kemudian membacakan secara lantang delapan poin tuntutan dan pernyataan sikap resmi dari Aliansi Peduli Masyarakat Kota Tarakan.
Poin pertama menegaskan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto dalam melaksanakan program MBG sebagai upaya strategis meningkatkan kualitas SDM lewat pemenuhan gizi jutaan penerima manfaat.
Tuntutan kedua, mendesak pemerintah untuk terus mendorong keberlanjutan dan perluasan program agar manfaatnya merata, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok rentan lainnya.
Tuntutan ketiga, menyoroti nasib pekerja lokal, di mana massa menegaskan bahwa pelaku UMKM, pedagang, petani, peternak, nelayan, tenaga pendidik, dan kader posyandu harus dijadikan pilar utama program MBG yang dilindungi, diberdayakan, serta diberikan kepastian hukum dalam pelaksanaannya.
Tuntutan keempat, berfokus pada anggaran, di mana aliansi mendukung efisiensi anggaran negara, namun dengan syarat tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan gizi sedikit pun.
Tuntutan kelima, menekankan pentingnya kemandirian ekonomi daerah melalui penggunaan bahan pangan lokal 100 persen dan penyerapan tenaga kerja lokal demi kesejahteraan masyarakat arus bawah.
Tuntutan keenam, mendesak adanya kepastian kebijakan, transparansi, serta koordinasi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BGN, dan pihak terkait agar program berjalan efektif dan tepat sasaran.
Tuntutan ketujuh, secara tegas menolak segala bentuk politisasi, disinformasi, atau tindakan apa pun yang dapat menghambat jalannya program MBG karena kebijakan ini murni demi kepentingan nasional.
Tuntutan kedelapan, menyatakan keyakinan aliansi bahwa program ini hanya akan sukses lewat semangat gotong royong, persatuan, dan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Aksi yang berlangsung tertib ini juga menggarisbawahi bahwa pemangkasan atau penghematan anggaran dari pusat tidak boleh mengorbankan pemenuhan gizi anak-anak di daerah. Pengabaian terhadap kualitas gizi dinilai sama saja dengan mencederai hak masyarakat kecil.
“Kami mendukung efektivitas, efisiensi anggaran negara, namun penghematan tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan gizi maupun hak masyarakat untuk memperoleh manfaat program makan bergizi gratis secara optimal,” tegas Setiyawan.
Aksi ditutup dengan penyerahan berkas tuntutan secara simbolis kepada perwakilan DPRD Kota Tarakan. Aliansi berjanji akan terus mengawal jalannya operasional dapur-dapur gizi di Tarakan agar tetap memberdayakan potensi petani dan nelayan lokal secara jujur, transparan, dan bebas dari intervensi politik pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. (Sha)



