TARAKAN — Kebutuhan konsumsi telur ayam di Kalimantan Utara (Kaltara) yang mencapai 4,8 ton per hari atau sekitar 1.728 ton per tahun menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi perekonomian daerah. Guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, Pemerintah Provinsi bersama DPRD Kaltara mendorong lahirnya program ketahanan pangan berbasis komunitas melalui konsep “1 Desa 1 Sentra Telur”.

Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kaltara, Jufri Budiman, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa komoditas telur ayam merupakan sumber protein yang sangat terjangkau dengan tingkat kebutuhan harian masyarakat yang sangat tinggi. Namun, pasokan lokal yang masih terbatas membuat Kaltara terus bergantung pada pengiriman antar-pulau.

“Tujuan utama kita adalah meningkatkan produksi telur ayam lokal sehingga kebutuhan masyarakat Kaltara tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ini bukan sekadar membangun kandang, tetapi membangun ekosistem pangan yang mandiri,” ujar Jufri Budiman.


Berdasarkan kalkulasi strategis, jika satu unit usaha di desa mengembangkan 10.000 ekor ayam ras petelur dengan tingkat produktivitas 85 persen, potensi hasil telur dapat mencapai 8.000 hingga 9.000 butir per hari (sekitar 240.000 hingga 270.000 butir per bulan). Apabila konsep ini direplikasi di 10 desa unggulan, Kaltara diperkirakan mampu memproduksi sekitar 85.000 butir telur per hari secara mandiri.

Untuk mendukung keberlanjutan program ini, sektor peternakan telur akan diintegrasikan secara langsung dengan pertanian jagung lokal sebagai pakan utama unggas. Rantai pasok dibangun secara linier. Petani Jagung memproduksi pakan lokal Pabrik / Pengolah Pakan mengolah hasil panen jagung. Peternak Ayam Petelur menghasilkan telur segar harian. Koperasi & APPSI menyerap dan mendistribusikan ke pasar lokal. Konsumen & Dapur MBG menjadi penyerap akhir hasil produksi.

Jufri Budiman, yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Kaltara dan Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kaltara, menyebutkan bahwa kunci sukses program ini berada pada kepastian pasar.
Selain pedagang pasar tradisional, keberadaan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh wilayah Kaltara dinilai menjadi offtaker (pembeli siaga) yang sangat potensial untuk menyerap hasil produksi telur peternak lokal.
“Dengan skema terintegrasi ini, uang yang sebelumnya keluar dari Kaltara untuk membeli telur dan pakan dari luar daerah akan tetap berputar di dalam perekonomian masyarakat desa kita sendiri,” pungkasnya.
Sebagai langkah awal, program sentra telur ayam ini direkomendasikan untuk dimulai melalui pilot project di 3 hingga 5 desa yang telah memiliki kesiapan lahan, akses air, listrik, dan kelompok ternak sebelum diimplementasikan secara meluas di Kabupaten Bulungan, Tarakan, Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung. (Sha)



